Posted by: halimahayu | December 2, 2008

Suara Hati Sang Perawat…

BERBICARALAH DENGAN JIWA

Perawat adalah mitra dokter, bukan pembantu dokter

Perawat adalah profesional, bukan amatiran

Perawat memilki kontribusi besar terhadap penyambuhan

Sehari – hari, perawat tak pernah lepas dari “komunikasi”

Sebagaimana keberadaan kita saat bayi

berkomunikasi dengan tawa dan tangis

Tawa…bila senang…bila kenyang

Tangis bila sedih…bila haus dan dahaga datang…

Hingga akhirnya naluri ibu mampu membedakan isyarat tangis…

Tangis karena si bayi pipis…

Tangis karena si bayi mengantuk…

Tangis karena si bayi ingin menyusu…

Seorang pasien memilki 100 rahasia

Bila 1 rahasia pokok telah ditemukan

maka 99 rahasia lainnya akan diberikan

Di sini peran komunikasi bagi perawat sangat menentukan

Awal komunikasi yang baik pada pasien akan menentukan

keberhasilan penyembuhan…

Maka ketika perawat telah lahir pada diri pasien

Tak perlu bertutur kata

Cukup telapak tangan ditempelkan ke dada

Maka berubahlah pengertian pasien

Berubahlah perasaan seseorang

Dari benci…menjadi cinta…

TAK MUNGKIN HIDUP TANPA KOMUNIKASI

CUKUPLAH HANYA DENGAN KIMUNIKASI

Baik komunikasi pada Tuhan…

Atau komunikasi pada sesama…

“…Maka, berbicaralah dengan jiwa…”

( disampaikan pada LKMM ILMIKI 2008 @ Unair Surabaya oleh : Wardianto )

Posted by: halimahayu | November 7, 2008

Cerpenku

Mahasiswa Dibalik Angkot

Terik matahari siang itu seakan membakar tubuhku, baru saja aku mengikuti kuliah yang sangat melelahkan. Sepertinya ilmu yang baru saja kuperoleh itu menguap dan hilang entah kemana. Karena tak ada jadwal kuliah berikutnya, aku putuskan untuk pulang saja beristirahat. Sambil menunggu angkot, aku berteduh di bawah pohon yang agak rindang. Kulihat beberapa mahasiswa masih berkeliaran di pelataran kampus, tak kuhiraukan teriakan – teriakan para supir angkot yang lalu lalang di hadapanku. Tiba – tiba sebuah angkot berhenti tepat di hadapanku. Sesosok wajah dengan peluh bercucuran muncul di balik kaca angkot.

“Ujung…!” katanya.

Kulihat jok belakang angkot sudah hampir penuh sesak, tapi masih ada satu tempat yang kosong di belakang supir. Tak ada alternatif lain, daripada aku tinggal berlama – lama di pinggir jalan sambil menghirup debu yang bisa saja merusak kesehatanku lebih baik aku naik saja di angkot itu. Seperti mengerti perasaan penumpang, sang supir memutar lagu – lagu kesukaan remaja masa kini. Mengalunlah suara merdu sang vokalis band ST12 putuskanlah saja pacarmu…di balik radio kecil sang supir angkot. Seketika itu juga rasa kantuk dan lelah yang kurasakan hilang entah kemana. Kuperhatikan sekeliling angkot yang kutumpangi itu, jarang aku melihat angkot yang hampir dipenuhi dengan tulisan – tulisan pembakar semangat jiwa mahasiswa. Hidup mahasiswa…!!! dan berbagai tulisan yang bahkan menghina para elit politik yang notabene tidak pernah mengenal yang namanya angkot.

§§§

Malam ini, aku harus belajar SKS ( Sistem Kebut Semalam ) lagi. Sistem yang paling jitu bagi mahasiswa jika tiba waktu ujian. Namun, sejak tadi tak ada sedikit pun materi yang nyangkut di kepala, bagaimana bisa nyangkut aku belajar di depan TV. Hihi…..

Kuletakkan diktat kuliahku yang masih sangat rapi karena tak pernah dibuka – buka itu, ada berita di TV yang menyita perhatianku. Mahasiswa kembali melakukan orasi dan para aktivis kampus termasuk tempat aku menuntut ilmu juga turut andil. Itu berarti besok bakal ada demo besar – besaran. Hatiku bersorak gembira mendengar berita itu, karena biasanya kampus bakal ditutup dan para dosen nggak akan memberikan kuliah. ( Jangan ditiru ya…)

Namun, entah apa yang mendorong diriku untuk bangun cepat pagi ini. Padahal semalam aku telah berniat untuk tidak ke kampus hari ini. Tak ada pilihan lain sebaiknya aku ke kampus saja turut memberi semangat kepada teman – teman di garis depan yang memperjuangkan kepentingan rakyat. Tak berapa lama akhirnya aku kembali bergelut dengan debu – debu jalanan menunggu angkot yang akan membawaku ke kampus seperti biasanya. Tanpa harus menunggu lama aku menaiki angkot yang telah penuh penumpang. Sekilas kulirik sang supir dibalik kemudi, aku kecewa bukan supir yang kemarin itu.

Mendekati pintu gerbang kampus, kondisi lalu lintas sangat macet. Benar juga dugaanku tadi malam, tampak huru – hara di sekitar kampus. Para mahasiswa yang melakukan orasi tampak bersemangat meneriakkan panji – panji kebenaran. Tiba – tiba aku merasakan solidaritas sesama mahasiswa, hampir saja aku turut bergabung di tengah – tengah mereka kalau tidak mengingat pesan mama.

“Nak, jangan sekali – kali kamu ikut berdemo ya…nanti kena peluru nyasar, lemparan batu nyasar, dan apa pun yang nyasar – nyasar itu,” pesan mama.

Ah, payah nih mama gini nih kalau orang yang waktu kuliah cuma belajar melulu nggak punya kesadaran sebagai mahasiswa. Terpaksa aku cuma jadi penonton di pinggir jalan melihat teman – teman berorasi, itu pun dari kejauhan takut kena yang nyasar – nyasar. Hihi…

Saat aku sedang memperhatikan teman – teman yang berorasi, tiba – tiba aku melihat sang supir angkot itu lagi. Masih dengan angkotnya yang sederhana namun membakar semangat mahasiswa. Yang membuat aku heran penumpang di atas angkot adalah para mahasiswa yang turut bergabung melakukan orasi. Nggak salah tuh…dan memang itu dia, bahkan sang supir kelihatan bersemangat angkotnya dijadikan sarana untuk berorasi. Untuk yang kesekian kalinya aku heran melihat seorang supir angkot sepertinya di jaman seperti ini.

§§§

Beberapa minggu kemudian, kuliah semester awal kembali dimulai. Setelah beberapa hari aku sempat depresi menghadapi ujian akhir semester lalu. Untung saja nggak ada nilai error harus ngambil SP alis semester pendek. Teman – teman yang lain pada pulang kampung kita di kampus melulu, kuliah. Kerajinan kali ya…hihi…

Seperti biasa hari pertama masuk kuliah, aktivitas perkuliahan belum berjalan. Kayaknya para dosen ngerti deh kalau mahasiswa mau lepas kangen dulu sama teman – temannya. Aku pun bersama teman – teman berinisiatif untuk berjalan – jalan ke fakultas lain. Biasa, mau cuci mata siapa tahu aja ada pemandangan bagus. Soalnya di fakultasku cowok – cowoknya kalau jalan pada nunduk, takut kesandung kali ya…

Saat aku dan teman – temanku sedang asyik ngobrol, tiba – tiba di kejauhan aku melihat seseorang yang tak asing lagi bagiku. Aku melihat sang supir angkot yang membuat aku sempat heran setengah mati. “Tapi apa yang dilakukannya disini?” batinku. Dengan diam – diam aku membuntuti kemana dia pergi. Rupanya dia menuju ke bagian akademik fakultas. Kulihat dia mengeluarkan beberapa helai uang lalu menyodorkannya dan uang itu berganti menjadi lembaran KRS ( Kartu Rencana Study ). Deg…tiba – tiba jantungku berdetak kencang.

“Siapa sebenarnya sang supir angkot ini?” tanyaku dalam hati.

Sepeninggal dirinya aku mencoba bertanya ke bagian akademik fakultas. Dan aku sangat terkejut mendengar siapa sebenarnya sang supir angkot itu. Ternyata dia adalah seorang mahasiswa. Menurut cerita ibu yang ada di akademik itu dia adalah mahasiswa yang kurang mampu namun tekadnya untuk melanjutkan kuliah sangat besar. Bahkan beberapa bulan yang lalu dia mengambil cuti beberapa waktu hanya untuk mengumpulkan uang dan baru hari ini dia baru bisa melanjutkan kuliahnya kembali. Aku tercengang mendengar kisah sang supir angkot itu.

Terjawablah sudah keherananku selama ini, angkot yang penuh tulisan – tulisan semangat mahasiswa, supir angkot yang rela angkotnya dijadikan sarana untuk berorasi. Tiba – tiba aku menyadari sikapku selama ini. Aku hanya menghambur – hamburkan uang orang tuaku tanpa kuliah dengan sungguh – sungguh. Setelah aku mengucapkan terima kasih kepada ibu petugas akademik fakultas, aku kembali ke teman – temanku dan terpaksa menyeret mereka kembali. Aku harus menyadarkan diriku dan teman – temanku. Di luar sana ada orang yang membanting tulang untuk membiayai kuliahnya, sementara kami tak pernah mempergunakan kesempatan yang telah diberikan Tuhan kepada kami. Dia hanyalah seorang supir angkot namun jasa dan perjuangannya sangat besar. Semoga di luar sana banyak orang yang tersadarkan dari kisah sang supir angkot ini. * (Ners 2007)

Posted by: halimahayu | November 7, 2008

Cerpenku

G a d i s S e n j a


Matahari senja sebentar lagi akan kembali ke peraduannya. Burung – burung camar beterbangan untuk kembali ke sarangnya. Tampak para nelayan mempersiapkan perahu – perahu mereka untuk berlayar mencari nafkah. Aku tak bergeming dari tempatku, tetap menatap pemandangan senja di luar sana. Namun, bukan itu yang membuatku bertahan untuk tinggal berlama – lama menikmati pemandangan senja. Di balik jendela kamarku aku kembali melihat gadis itu.

Siluet bayangan seorang gadis yang cantik. Rambutnya yang hitam terurai panjang, sesekali diterbangkan angin senja. Tatapannya menatap laut lepas di depan sana sambil duduk di tepi pantai. Entah dari mana gadis itu datang, kala senja tiba aku selalu melihatnya duduk di tepi pantai sambil menatap laut. Hanya itu yang dilakukannya.

Hingga suatu waktu, aku tidak bisa membendung rasa keingintahuanku. Aku pun keluar untuk menemui gadis itu. Saat aku sampai di pinggir laut, aku tidak menemukannya. Entah dimana gadis itu, sepertinya dia hilang bak ditelan bumi. Aku menatap laut, mungkin saja dia hanyut terbawa arus ombak. Namun, tak ada tanda – tanda kalau gadis itu hanyut. Aku pun kembali ke penginapan dengan rasa keingintahuanku yang semakin besar.

§§§

Malam ini, pikiranku kembali ke gadis itu. Rencanaku untuk menghabiskan waktu liburan dengan bersenang – senang menikmati keindahan laut sepertinya harus tertunda. Aku bertekad untuk mengetahui siapa gadis itu sebenarnya. Gadis yang telah membuat hati dan pikiranku kacau. Berkali – kali aku mencoba memejamkan mata namun bayangan gadis itu selalu ada di pelupuk mataku.

Keesokan harinya, aku mencoba mengorek keterangan tentang gadis itu. Namun, ternyata tak seorang pun yang kenal dengan gadis itu. Aku bertanya kepada para nelayan yang seringkali menambatkan perahunya di pinggir laut, mereka hanya bisa menggeleng tak tahu tentang gadis itu. Aku pun bertanya kepada penduduk setempat, tak seorang pun yang mempunyai seorang anak gadis seperti yang kuceritakan. Sepanjang hari aku mencari siapa sebenarnya gadis itu, namun aku tak memperoleh informasi sedikit pun tentangnya. Aku sangat kecewa, mungkinkah aku hanya bisa melihat gadis itu di balik jendela kamarku selamanya ???

Senja ini aku kembali bertengger di balik jendela kamarku, menanti kedatangan gadis itu. Kali ini aku akan menunggu hingga dia pergi, lalu aku akan mengikutinya kemana dia pergi. Mungkin saja dengan cara itu aku bisa tahu siapa gerangan gadis itu. Gadis senja yang selama ini telah membuat hatiku terperangkap dalam keingintahuan. Dan untuk melepaskan diriku dari perangkap itu aku harus tahu siapa gadis itu.

Tiba – tiba mataku menemukan kembali sosok gadis itu. Gara – gara mengkhayalkannya, aku tak melihat gadis itu datang dari arah mana. Mataku tetap menatap gadis itu, sama seperti hari – hari sebelumnya aku melihat dirinya tetap duduk di pinggir pantai dan menatap laut di depannya. Tiba – tiba dia menunduk dan mengusap wajahnya. “Dia menangis…,” batinku. Ada apa dengan gadis senjaku, siapa yang telah menyakitinya hingga dia menangis. Andai saja aku bisa menghampirinya, aku akan menghapus air matanya dan memberikannya kebahagiaan.

Namun ternyata dia tidak sendirian, aku melihat orang lain berjalan ke arahnya. Seorang wanita tua, mungkin ibunya. Tiba – tiba aku terperanjat melihat pemandangan yang ada di depanku. Wanita tua itu memberikan sebuah tongkat kepada sang gadis. Kulihat sang gadis meraba – raba udara sambil tetap menatap laut di hadapannya. Sang gadis pun memegang tongkat yang diberikan wanita tua itu, lalu berjalan perlahan sambil menghentakkan – hentakkan tongkat itu pada jalan yang dilaluinya. Aku menatap gadis itu sampai hilang dari pandanganku. Niatku untuk mengikutinya hilang begitu saja. Ternyata gadis senja yang selama ini kuimpikan adalah seorang gadis yang buta…

(“Tuhan ketika aku mencintai seseorang aku kecewa karena orang itu tak sempurna, Tuhan ketika aku mencintaimu aku pun kecewa karena cintaku yang tak sempurna”).

Posted by: halimahayu | January 10, 2009

Welcome 2009. . .!!!

Wah…tak terasa umur dunia ini semakin berkurang sekarang sudah tahun 2009. Tak ada yang tahu kapan kehidupan di dunia ini berakhir??? Mungkin saja tahun 2010…”berarti tinggal 1 tahun lagi dong…”
Apa yang telah aku lakukan selama ini…???

Di awal tahun 2009 ini, aku disibukkan dgn kegiatan organisasi. Aku sempat kewalahan juga, apalagi menjabat sebagai ketua panitia di kegiatan pengkaderannya maba 08 (VENUS). Fiuh…
Tapi, itu semua yang memberikan aku pelajaran dan pengalaman bgm memegang suatu amanah dan tanggung jawab. Karena amanah dan tanggung jawab yg diberikan kpd kita bukanlah jenjang karir tapi itu adalah tarbiyah dari Allah. Aku bangga bisa langsung ditarbiyah oleh Allah SWT.

Baksos…nah ini kegiatan kedua setelah VENUS. Seru…naik perahu menuju kepulauan Pangkep, menantang badai dan gelombang (lebai…hehe..), makan kepiting dan cumi – cumi, belajar sirkumsisi alias sunatan…
Selain itu bersama tmn2 bahagia…skali…
Saya juga sempat buat “message in the bottle” yang kubuang ke laut lepas. Di dalamnya ada ungkapan hatiku, harapanku selama ini. Aku berharap org yg mendapatkannya kelak adalah orang yang aku harapkan dalam keajaiban…
Tak hanya sekedar harapku…

Posted by: halimahayu | November 30, 2008

Seminggu di Kota Pahlawan, Sejuta Kenangan…

Pertama kali kuinjakkan kakiku di kota pahlawan yang terkenal akan “Arek – arek Suroboyo”-nya, seribu satu macam perasaan yang muncul di hatiku. Aku tak tahu perasaan apa itu, sulit untuk dideskripsikan. Namun, hanya satu tujuan di hati ini yakni membawa nama baik PSIK Unhas dalam suatu forum nasional yaitu : LKMM ILMIKI 2008 tepatnya di Universitas Airlangga Surabaya.

Namun, apa yang kupikirkan tak seperti yang kudapatkan. Walaupun harus rela meninggalkan kuliah selama 5 hari tapi tak mengapa…karena manfaat yang kudapatkan disana jauh lebih banyak… Dapat teman baru dari berbagai daerah di Indonesia, dapat ilmu tentang keorganisasian, paham akan isu – isu keperawatan yang selama ini hanya kupandang sebelah mata.

Bersama teman – teman dan kakak2 yang selalu memberi semangat, membuat semangat aku juga berkobar. Semangatku mungkin sama seperti semangat para arek – arek suroboyo saat berperang melawan penjajah. hehe… Selain itu bisa belajar bahasa jawa dan memperkenalkan bahasa Makassar kita disana. Dan alhasil sangat jauuh…berbeda.

Satu pesan untuk teman – teman, ternyata kita tidak sendiri kawan…!!! Di luar sana banyak teman – teman yang senasib dan seperjuangan dengan kita untuk menjadi seorang perawat yang profesional. Tidak hanya dan tak akan pernah dikenal sebagai “pembantu dokter”. Untuk itu, mari kita benahi diri masing – masing untuk mengawali perjuangan awal kita membuka paradigma baru di dunia keperawatan. Kalau bukan kita siapa lagi…HIDUP MAHASISWA…HIDUP PERAWAT…!!!

Posted by: halimahayu | November 7, 2008

Hello world!

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!

Categories

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.